Peluang Bisnis Food Truck

November 27, 2014

Sumber: kontan.co.id
Oleh Marantina - Kamis, 27 November 2014 | 14:47 WIB

Bisnis kuliner memang tak pernah mati. Bukan saja dari perkembangan menu atau makanan yang dijual, cara penyajian dan cara penjualan pun bisa menjadi peluang baru yang menjanjikan.

Belakangan ini, tren food truck mulai mewabah di ibukota. Kebanyakan pemiliknya merupakan anak muda.

Konsep food truck sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Beberapa tahun lalu, masyarakat kita mengenal moko alias mobil toko. Sejatinya, ada kemiripan antara moko dengan food truck.  Dua-duanya merupakan istilah yang diberikan untuk kendaraan yang dimodifikasi menjadi media menjajakan dagangan.

Yang membedakan, food truck tidak cuma sekadar berjualan makanan. Di dalam truk makanan itu juga berlangsung proses produksi. Beda halnya dengan moko yang hanya menjadi etalase berjalan produk, termasuk makanan. Selain itu, food truck memiliki sejarah di Amerika Serikat (AS).

Food truck lahir di Negeri Paman Sam, dengan pasar utama kaum pekerja imigran. Dalam perkembangannya, truk makanan dimodifikasi dengan kreatif. Perlahan-lahan, pandangan orang terhadap food truck pun berubah.

Pertumbuhan food truck di negara asalnya sangat maju. Kini, jutaan pengusaha menggunakan konsep food truck dalam bisnis kuliner.

Di Indonesia, tren food truck baru tampak setahun terakhir. Hampir semua truk makanan itu beroperasi di Jakarta. Food truck bisa jadi pilihan usaha yang menggiurkan mengingat biaya sewa lahan untuk restoran kini terus melambung.

Salah satu pemilik usaha food truck adalah Andre Tenardi. Sebelumnya, Andre punya usaha otomotif. Namun, ia memang sudah lama ingin membuka usaha kuliner. Terinspirasi dari usaha food truck ala Amerika, Andre pun mencoba memulainya di dalam negeri.

Bersama dengan tiga rekannya, Andre mendirikan Taco Truck sejak September tahun lalu. Pria ini mengklaim  Taco Truck merupakan food truck yang pertama di Jakarta. “Kebetulan salah satu pendiri Taco Truck bekerja sebagai chef jadi kami memproduksi sendiri semua makanan yang dijual di Taco Truck,” ujar dia.

Dari namanya, Anda pasti akan menebak Taco Truck menghidangkan makanan ala Meksiko. Ya, memang Taco Truck menyajikan berbagai menu, seperti nachos, burritos, taco, dan quesadilla. Kisaran harga di Taco Truck Rp 25.000 – Rp 45.000 per porsi.

Pertama kali beroperasi, Taco Truck memilih tempat mangkal di sebuah taman di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Andre bilang, animo masyarakat cukup bagus. Apalagi, food truck merupakan konsep baru. Jadi, banyak orang yang tertarik mencoba.

Dalam sehari, Andre bisa membukukan penghasilan Rp 2 juta–Rp 3 juta dari penjualan berbagai menu Meksiko. Dia bilang, margin keuntungan usaha ini bisa mencapai 50%. Pemasukan itu bahkan bisa bertambah, jika ia diundang ke suatu acara atau pameran. “Omzet bisa meningkat lima kali lipat,” kata dia.

Hal serupa diungkapkan Ari Galih Gumilang, salah satu owner Jakarta Food Truck. Usaha truk makanan mulai booming sejak awal tahun. Banyak sekali pihak yang tertarik mengundang food truck ke suatu event. Selain untuk memenuhi kebutuhan konsumen sehari-hari, food truck juga bisa melayani pasar katering. “Kalau ada event, pesanan ramai sekali sampai kami kewalahan memenuhinya,” ucapnya.

Menurut Ari, prospek usaha ini pun sangat cerah. Apalagi saat ini, hanya sekitar 10 pemain food truck di Jakarta. Tak heran, persaingan belum ketat. “Kami tidak mau menyebut pemain lain sebagai pesaing tapi malah kami berharap semakin banyak yang bikin food truck supaya masyarakat lebih aware,” tutur mantan chef di sebuah hotel bintang lima.

Ari menyajikan makanan ala Amerika di truknya. Kata dia, food truck seharusnya menjual makanan yang nyeleneh alias unik agar berbeda dengan menu yang lazim ditemui di restoran. Jakarta Food Truck menghidangkan menu seperti burger, iga panggang, dan ayam goreng dengan harga Rp 25.000 hingga Rp 75.000 per porsi.

Setiap hari, Ari bisa meraup omzet Rp 2 juta dari usaha ini. Setiap akhir pekan biasanya truknya tidak mangkal di tempat biasa tapi dipesan untuk acara. Dari event, omzetnya bisa naik lima kali lipat. Adapun laba bersihnya di atas 50%.

Modifikasi mobil
Anda tertarik menggeluti usaha ini? Namanya juga food truck, unsur utama dari usaha ini pastilah truk atau kendaraan itu sendiri. Ini faktor pertama yang harus jadi perhatian. Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih truk untuk usaha ini.

Ari mengatakan, karena proses produksi juga dilakukan di dalam kendaraan, pilihlah kendaraan yang memiliki ruang yang cukup lapang. Untuk Jakarta Food Truck, Ari menggunakan Isuzu low wheel bus. Meskipun disebut food truck¸ bukan, berarti kendaraan yang digunakan harus truk. “Kalau pakai truk yang beroda enam, ruang geraknya sangat terbatas, apalagi di Jakarta, tak mungkin boleh melalui jalan-jalan utama,” kata dia.

Setelah pas dengan pemilihan kendaraan, lantas perhatikan modifikasi bagian belakang kendaraan. “Selain displai, food truck juga berfungsi sebagai tempat produksi, jadi saya modifikasi bagian belakang menjadi semacam dapur kecil tapi dengan konsep dapur restoran,” ungkapnya.

Kendaraan harus muat untuk setidaknya dua orang koki. Penempatan peralatan masak pun harus dipikirkan sehingga ruang gerak koki cukup dinamis ketika bekerja. Selain itu, jangan lupa membuat ventilasi untuk keamanan dan kenyamanan mereka yang bekerja di mobil.

Ari menghabiskan dana Rp 500 juta untuk membeli sekaligus memodifikasi low wheel bus menjadi truk makanan. “Saya bawa ke karoseri selama enam bulan, sudah jadi food truck,” ucap dia.

Ari bilang, sebaiknya untuk food truck, kendaraan yang digunakan memang besar bak sebuah truk. Pasalnya, belakangan banyak pemain yang mengaku bisnis food truck tapi kendaraan yang digunakan terlalu kecil seperti Grand Max. “Menurut saya, konsep food truck yang asli bukan seperti itu,” tegasnya.

Andre juga sependapat dengan Ari. Namun, ia menggunakan Toyota Dyna karena selain luas, mesinnya juga cukup bagus. Untuk membeli dan memodifikasi truk asal Jepang itu, Andre merogoh kocek sekitar Rp 500 juta. “Saya modifikasi truk dengan bahan-bahan food grade. Jadi bukan hanya peralatan masaknya yang aman untuk makanan,” tandasnya.

Setelah memodifikasi truk makanan, Ari dan Andre bilang, mereka juga butuh dapur khusus untuk produksi. Andre menyewa satu ruko untuk mempersiapkan makanan yang akan disajikan di truk. Pasalnya, kata Ari, 60% proses produksi dilakukan di dapur dan sisanya dikerjakan di dalam truk makanan. Dus, modal untuk usaha ini pun tak hanya untuk membeli dan merombak kendaraan tapi juga untuk menyewa dan membeli perlengkapan di dapur.

Beda dengan restoran
Meskipun menyuguhkan berbagai pilihan kuliner, mengelola food truck tidak sama dengan restoran. Ari menuturkan, pola kerja mereka mirip, tapi sedikit lebih rumit dengan pola kerja di restoran. Pasalnya, kendaraan tidak menetap di satu tempat alias berpindah-pindah.

Awalnya, food truck beroperasi di daerah Kemang. Tetapi, tak lama mereka berpindah lokasi ke Jalan Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan. “Idealnya food truck memang nomaden,  karena itu yang membedakan usaha ini dengan restoran,” ucapnya.

Ari lebih memilih tempat parkir di depan ruko atau kantor. Dia pilih parkir berlangganan yang dibayar setiap bulan. Sementara itu, Andre lebih suka memarkirkan truk makanannya di pusat keramaian, seperti dekat pusat belanja.

Di pagi hari, karyawan membeli bahan baku serta menyiapkan makanan di dapur utama. Selanjutnya, makanan yang sudah setengah jadi itu dibawa masuk ke dalam truk. Lalu, truk makanan berangkat menuju lokasi berjualan hingga jam operasi berakhir. “Ada karyawan yang kaget dengan pola kerja seperti ini makanya harus dilatih,” kata Andre.

Namun, baik Ari maupun Andre belum bisa memetakan lokasi berdagang untuk kurun waktu tertentu. Mereka masih terkendala dengan perizinan. Pasalnya, pemerintah belum punya regulasi khusus untuk para pengusaha food truck.

Saat ini, mereka sebatas mengurus izin untuk kendaraan. Andre juga membayar pajak reklame karena menurut dia truk makanannya juga digunakan untuk branding.

Lantaran belum ada regulasi yang jelas, rata-rata pengusaha food truck  kesulitan mendapatkan tempat parkir yang ideal. “Untuk memperoleh izin parkir saja susah. Setelah ada izin pun, banyak pungli yang datang,” keluh Andre.

Mendongkrak omzet dengan hadir di event
Konsep truk makanan memang punya kelebihan dan kekurangannya. Walau susah mendapatkan tempat parkir, bukan berarti mobilitas mereka terganggu. Untuk menggenjot penghasilan, para pemilik food truck giat berpromosi melalui media sosial. Dari situ, masyarakat semakin aware terhadap keberadaan truk makanan di Jakarta.

Di sisi lain, truk makanan pun sering diundang untuk mengisi acara tertentu alias jadi katering. Beberapa mal juga kerap mengadakan pameran food truck untuk memikat pengunjung. “Kami sering diundang pihak mal atau developer ketika launching perumahan baru. Responsnya sangat bagus,” kata Ari Galih Gumilang.

Ari juga rajin menjemput bola alias mencari acara yang tepat untuk tempat parkir truk makanannya. “Kami pilih event yang cocok lalu kami sewa tempat untuk parkir di sekitar event itu,” ujarnya. Dalam sehari, sewa parkirnya memang lebih mahal sedikit dibandingkan sewa parkir bulanan yang biasa. Namun, penghasilan dari ikut acara pun menggiurkan.

Malah di masa mendatang, Ari akan menambah unit truk makanannya. Dus, ia punya truk makanan yang berpindah-pindah tempat untuk melayani konsumen. Selain itu, ia juga punya truk makanan yang khusus mengisi suatu acara atau pameran.

Andre Tenardi, salah satu pemilik Taco Truck bilang, selain untuk menambah omzet, berpartisipasi dalam sebuah acara atau pameran juga membantu kegiatan branding. “Sekarang, setiap akhir pekan Taco  Truck dapat undangan untuk mengisi acara di mal atau realestat,” ucapnya.

 

Please reload

Website Disclaimer by SEQ Legal LLP is licensed under a Creative Commons Attribution 2.0 UK: England & Wales License. Based on a work at www.freenetlaw.com. You must retain the credit in all versions and derivatives of the free website disclaimer. If you want to use this template without a credit, you can obtain a license to do so here: Freenetlaw.com license, 2015

Published & maintained by SeputarEvent

  • Facebook Social Icon
  • Twitter Social Icon
  • YouTube Social  Icon
  • Instagram Social Icon
Visitor Counter: